Dalam kehidupan yang terasa penat ini, rasanya jarak antara orang semakin dekat, terjangkau dan tak berpenghalang. Lepas dari itu semua, masalah yang sebenarnya tidak ingin kita ketahui terpaksa harus kita ungkit keberadaanya dan harus mengetahui perkembangannya lebih jelas lagi. Masalah yang semestinya tidak perlu diperdebatkan karena dalam agama sudah tidak mempunyai hukum sah untuk penge”sah”annya. Tapi kecemasan akan terjangkiti tidak pernah luput dari perasaan kita, entah itu akan berakibat pada kita, keluarga, ataukah entah para penerus dan keturunan kita nanti.
Meskipun banyak orang beranggapan bahwa penyimpangan dari sebuah orientasi seksual yang di gariskan oleh sang Pencipta yaitu “gay” (homo untuk laki-laki, lesbian untuk perempuan) adalah wajar. Meski dalam norma agama dan hukum berpasangan tidak mewajarkan hal itu, tapi tidak heran juga banyak orang yang beranggapan bahwa gay itu wajar, karena kalau di telaah lebih lanjut lagi, gay sudah dianggap abnormal secara medis, karena dalam medis batasan normal seringkali dilihat secara kualitatif. Bagaimana gladiator bisa dinilai abnormal dimasa romawi, bila hampir 80% masyarakatnya menyukai acara itu? Dan bagaimana bisa disalahkan orang-orang yang menganggap gay tidak normal, bila berbagai pengakuan, bahkan pengabsahan pernikahan antargay muncul dimana-mana. Tapi apakah respon kita hanya cukup diam saja, saat pemahaman itu memporak-porandakan benteng kehidupan dan norma-norma yang kita anut selama ini. ataukah perlu bersuara keras, lantang dan teriak untuk menolak pemahaman itu? Dalam kenyataan ini dua-duanya tentu akan menimbulkan resiko jauh lebih parah dari masalahnya sendiri.
Selasa, 17 November 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar